Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog

Archive for the ‘Seni’ Category

Mencari Arsitektur Syariah

Tuesday, October 22nd, 2013

aristektur-syariahDr. Fahmi Amhar

Apakah bedanya antara “arsitektur Islam” dan “arsitektur syariah”?  Adakah sebenarnya istilah “arsitektur syariah”?

Arsitektur Islam jauh lebih mudah dipahami, karena sering disamakan dengan bentuk dan ornamen Timur Tengah, penggunaan bentuk kubah, kaligrafi dan penanaman pohon palem di tamannya.  Sementara aristektur syariah agak lebih abstrak.

Tetapi sebenarnya orang sudah sering mengeluhkan ketika di suatu ruang publik seperti hotel, mal, terminal atau stadion, mushalanya amat sempit, pengab, atau di lokasi yang paling sulit dijangkau.  Sering juga mushola itu sebenarnya tidak dari awal didesain sebagai mushala, tetapi hanya diimprovisasi karena ada kebutuhan.  Ini adalah indikasi bahwa diperlukan adalah suatu arsitektur yang mendukung penerapan syariah, meskipun baru sebatas kewajiban fardhiyah (ibadah, menjaga aurat).

Tetapi minat (ghirah) yang meningkat pada Islam, baik dari sisi bentuk (arsitektur Islam ala Timur Tengah) maupun substansi (arsitektur ramah syariah) ini harus diapresiasi dan dipupuk.  Persoalannya memang banyak bangunan modern yang tidak dibangun oleh arsitek Muslim atau arsitek yang sadar syariah.  Lebih parah lagi jika pemilik gedung juga tidak memiliki kesadaran syariah, sehingga ketika membuat spesifikasi gedung yang akan dibangun, dia melupakan detil yang terkait syariah.

Saat ini, teknologi arsitektur modern memang sudah tidak lagi berada di tangan umat Islam.  Padahal kalau berkaca pada sejarah, akan kita temukan bahwa inovasi arsitektur terbesar justru dilakukan para arsitek Muslim.  Yang paling terkenal tentu saja Sinan! (more…)

Doa Walimah

Thursday, March 21st, 2013

Ya Allah, Kami berdoa untuk sepasang insan, suami istri ini,
yang akan saling menjadi bagian dari hidup pasangannya,
Sepasang insan yang sungguh mencintai-Mu, lebih dari segala sesuatu.

Sepasang insan yang akan meletakkan pasangannya pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau;
Sepasang Insan yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk-Mu.

Sepasang insan yang mempunyai hati sungguh mencintai dan haus akan Engkau;
dan memiliki keinginan untuk mentauladani sifat-sifat Agung-Mu.

Sepasang insan yang mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia;
Sepasang insan yang mempunyai hati yang bijak bukan hanya sekedar otak yang cerdas.

Sepasang insan yang tidak hanya mencintai pasangannya tetapi juga menghormatinya;
Sepasang insan yang tidak hanya saling memuja tetapi dapat juga saling menasehatinya.

Sepasang insan yang saling mencintai bukan karena penampilannya tetapi karena hatinya;
Sepasang insan yang saling dapat menjadi sahabat terbaik dalam tiap waktu dan situasi;
Sepasang insan yang saling dapat membuat pasangannya merasa jadi idola ketika di sebelahnya.

Sepasang insan yang saling membutuhkan dukungan sebagai peneguhnya,
Sepasang insan yang saling membutuhkan do’a untuk kehidupannya,
Sepasang insan yang saling membutuhkan senyuman untuk mengatasi kesedihannya,
Sepasang insan yang saling membutuhkan untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Dan kami juga meminta Ya Allah.

Buatlah mereka menjadi sepasang insan yang dapat membuat pasangannya itu bangga,
berikan mereka sebuah hati yang sungguh mencintai-Mu, sehingga pasangannya dapat mencintainya dengan cinta-Mu, bukan mencintainya dengan sekedar cinta.

Berikanlah sifat-Mu yang lembut sehingga pesona mereka datang dari-Mu bukan dari luar diri mereka;
Berikan mereka tangan-Mu sehingga mereka saling berdoa untuk pasangannya.
Berikanlah mereka penglihatan-Mu sehingga mereka dapat melihat
banyak hal baik dalam diri pasangannya dan bukan hal buruk saja,
Berikanlah mereka mulut-Mu yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaan-Mu dan pemberi semangat,
sehingga mereka dapat saling mendukung setiap hari, dan dapat saling tersenyum setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya mereka akan bertemu, kami berharap mereka berdua dapat mengatakan
“Betapa besarnya Engkau karena telah memberikan kepada kami
seseorang yang dapat membuat hidup kami menjadi sempurna”.
Kami mengetahui bahwa Engkau menginginkan mereka bertemu pada waktu yang tepat
dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kau tentukan.

Baarakallahu laka wabaraka ‘alaiyka wa jama’a baiynakuma fii khoir

Aamien.

Belajar Seni Peran, bikin Film dan menulis Script

Thursday, January 17th, 2013

Saya ada potongan jadi pemain film nggak ya?  Kalau bikin film?  Kalau menulis skenario? He he …

Tapi sejatinya saya pernah bergabung dalam suatu kelompok teater.  Dulu, sewaktu masih SMP.  Oleh pelatih, kami diajari berbagai elemen dasar seni peran.  Main teater itu jauh lebih sulit daripada main film.  Kalau adegan dalam film kan bisa diulang-ulang.  Suaranya bisa didubbing.  Tetapi kalau teater semuanya life.  Jadi harus hafal betul dialognya.  Kalau lupa, ya harus improvisasi.  Makanya cerita besarnya harus hafal, dan karakter yang diperankan harus menjiwai.

Elemen dasar seni peran itu misalnya, tentang karakter: bagaimana memerankan orang yang lagi sedih, senang, marah, gembira, apatis, buang muka, dsb.  Juga tentang bagaimana menjadikan suatu drama mencapai klimax. Juga soal bagaimana mengkombinasikan setting panggung, posisi pemain, rias, kostum, iringan musik, tata lampu, dsb.  Ternyata memang tidak mudah.  Untuk suatu pertunjukan kecil yang hanya berdurasi 15 menit dalam acara sekolah, persiapannya bisa berbulan-bulan.

Tetapi saya jadi banyak belajar, bahwa manusia bisa disiapkan untuk main sandiwara.  Pemain sandiwara kawakan itu bisa menyembunyikan emosi aslinya.  Meski dia sebenarnya sedang gundah karena ibunya sakit, demi tuntutan skenario di panggung, dia harus bisa tampil riang gembira.  Demikian juga sebaliknya, meski lawan dialognya itu seorang yang sangat ramah dan rupawan, dia harus bisa membuang muka, bahkan kalau perlu sambil meludah, karena skenarionya menyuruhnya begitu.

Kemampuan seperti ini diperlukan ketika kita memiliki aktivitas dengan komunikasi antar manusia yang menonjol.  Baik guru, trainer, marketter maupun pengemban dakwah dan politisi, tidak akan rugi belajar seni peran.  Bahkan ilmu peran ini ternyata ada perguruan tingginya.  Namanya jurusan “dramaturgy”.  Mereka yang sangat serius ingin jadi aktor, ya rela kuliah bertahun-tahun di sana.  Kadang saya heran.  Bukankah ada juga anak yang masih kecil juga sukses main film.  Tapi ya beda.

Saya pernah ikut suatu car-sharing (yang lazim di Eropa) untuk perjalanan dari Wina ke Gottingen.  Ternyata sopirnya itu seorang aktor Austria.  Orangnya ramah.  Saya tanya, apa sih peran dia di film-film.  Dia bilang, paling sering jadi tokoh antagonis.  Misalnya jadi serdadu Nazi … weleh …  Terus saya tanya, apa itu ada sekolahnya?  Dia bilang, ya, dia sekolah 4 tahun untuk dapat diploma seni peran.  Saya makin penasaran, saya tanya, kalau yang tidak sekolah saja bisa jadi aktor terkenal, bagaimana kalau yang sekolah seperti dia.  Dia menjawab begini, “Untuk jadi aktor terkenal, Anda harus ketemu produser atau sutradara yang tepat, di tempat yang tepat, di saat yang tepat, agar Anda mendapat peran yang tepat, dalam cerita yang tepat, dan bermain bersama orang-orang yang tepat”.  Wow ! (more…)