Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog

Sebuah Puisi Bernama Kekerasan

Monday, July 23rd, 2012

oleh Fahmi Amhar

Kalian bertanya tentang apa itu kekerasan?
Tanyakan pada televisi yang tayangan smackdownnya berhasil menyedot iklan
Tanyakan pada petugas tramtib yang sehari-hari dengan PKL berkejar-kejaran
Tanyakan pada satpol pamong praja yang harus menggusur kolong jalan tol atau jembatan
Tanyakan pada senior STPDN tentang yuniornya yang perlu tambahan pelajaran
Tanyakan juga pada Mr. Bush tentang pemerintah negara yang tidak menganggapnya majikan: “either you are with us, or you are with terrorist !!!!”

Kalian bertanya tentang seperti apa rasanya kekerasan?
Tanyakan pada anak sekolah, yang gurunya stress karena gaji kecil tapi bejibun kewajiban
Tanyakan pada orang udik yang datang-datang ke Jakarta sudah ditodong atau kecopetan
Tanyakan pada para perempuan, yang suaminya selingkuh, pulang mabuk dan ringan tangan
Tanyakan pada para wartawan, ketika narasumbernya tak rela kasusnya diungkapkan
Tanyakan pada para korban, di Rohingya, di Suriah, di Palestina, di Irak atau di Afghanistan: “bagaimana rasanya anakmu hilang, ayahmu dibunuh atau istrimu diperkosa oleh satu pasukan … ”

Kini kalian bertanya tentang hakekat kekerasan?
Kalian tak rela ajaran agama apapun dipersangkutpautkan
Kalian ingin, Islam lebih-lebih, tidak mentolerir apalagi mengajarkan kekerasan
Kalian lebih suka, bila pipi kiri ditampar, berikan pipa kanan tanpa sungkan-sungkan
Kalian setuju, biarlah para pemeluk agama yang taat itu cinta damai dan anti kekerasan
Tapi apakah lantas sepak terjak kapitalis penjajah itu seterusnya kita biarkan?

Ya Allah

Aku menyembahmu tanpa paksaan
Aku belajar menghadapmu lima waktu, tanpa orang tuaku mengancam dengan pukulan
Aku tidak berzina atau mencuri, bukan karena aku takut hukum rajam atau potong tangan
Aku bisa mengendalikan diriku sendiri ya Allah, karena Engkau sinari hatiku dengan iman
Namun Engkau Maha Tahu ya Allah, di luar sana ada orang-orang yang memuja setan
Hawa nafsu syahwat politik atau ekonomi atau budaya mereka tak tertahankan
Mereka injak-injak syari’atmu, meski syari’at itu Kau buat demi rahmat seluruh insan
Untuk itulah aku kira, Engkau turunkan beberapa syariat berbau kekerasan
Tetapi tidak untuk digunakan sembrono, serampangan dan asal-asalan
Melainkan semata-mata untuk menjaga tegaknya mizan keadilan.

Aku percaya keadilanmu ya Allah
Ampunilah dosa-dosaku.
Terimalah puasaku.

PUISI PENGELANA: PENGUASA SESUNGGUHNYA

Tuesday, January 17th, 2012

PENGUASA SESUNGGUHNYA

Sekarang banyak orang silau,
Jadi pejabat apalagi menteri oh alangkah enaknya,
Dan banyak orang yang risau,
Kenapa bukan dia yang duduk di sana …

Padahal yang sudah pernah di sana tahu faktanya,
Jabatan resmi tidak otomatis berkuasa nyata,
Karena terlalu banyak persoalan tidak dikuasainya,
Terlalu banyak aturan tak pernah dibacanya,
Dia bergantung pada orang-orang di sekelilingnya,
Padahal terlalu banyak orang tidak dikenalnya.

Pejabat yang cuma gila harta dan tahta,
Semua itu tidak memusingkannya,
Tetapi pejabat yang masih punya rasa,
Membuatnya serasa dihimpit benua.

Bayangkan kau jadi menteri ekonomi,
Tetapi semua pidatomu harus dibuatkan Bank Dunia,
Sehingga kalau kau bicara tanpa teks tentang ekonomi rakyat,
Habis itu hampir pasti kau didamprat.

Bayangkan kau jadi menteri olahraga,
Tetapi pembantumu harus ustad-ustad,
Kemudian mereka harus membuka acara,
Festival voli pantai dengan gadis-gadis yang membuka aurat.

Bayangkan kau jadi menteri pendidikan,
Anggaranmu membuat iri semua orang,
Tetapi kau tak kuasa menghentikan acara-acara anti pendidikan,
Yang diumbar di media-media massa atas nama kebebasan.

Bayangkan kau jadi presiden,
Tetapi dua karung surat dari para tokoh dunia tidak pernah disampaikan kepadamu,
Kau juga tidak bebas menghubungi mereka, atau membuka sendiri email mereka,
Dan ketika sebuah dokumen harus kau tanda tangani,
Kau hanya diberi waktu lima menit untuk membacanya,
Itupun kalau dokumen itu sampai ke mejamu.

Siapapun yang memiliki pengaruh,
Yang diikuti oleh pejabat, menteri atau presiden sekalipun,
Suka atau tidak suka
Terlihat kecil ataupun raksasa,
Itulah penguasa yang sesungguhnya,
sekalipun status tidak disandangnya,
sekalipun publik tidak mengenal namanya.

FA

(2009-10-21, ketika nama anggota KIB-2 diumumkan)

PUISI PENGELANA: Cordoba (2)

Sunday, January 15th, 2012

Air mata itu berderai
hati ini seakan pecah
mengenang Khilafah
yang pernah berdiri megah
di sini
di Cordoba

Berabad yang lewat
di Cordoba sejuta ummat
beramal jama’at
mewujudkan masyarakat
dengan pedoman syari’at

Tapi seribu tahun telah berlalu
semilyar hati ‘kali telah lupa
Andalusia
tanah air kita juga

Betapa pendek umur manusia
Lebih pendek lagi ingatan mereka
Palestina, Kashmir, Chechnya, Bosnia
akan menjadi Cordoba lainnya
Bila cakrawala manusia
Berhenti di pagar rumahnya saja

(Cordoba, 8 September 1995)

di Alcazar, taman Cordoba