Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog

Archive for the ‘Sejarah’ Category

BULAN PERUBAHAN – Ramadhan Hari-6: UBAH ASUMSI

Monday, July 15th, 2013

fahmi-amhar-ubah-asumsiSesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu asumsi-asumsi yang selama ini digunakannya.

Dunia ini penuh dengan asumsi (anggapan yang dianggap benar).  Tidak hanya untuk negara setiap membuat RAPBN yang dimulai dengan beberapa asumsi (misal nilai tukar Dollar, lifting minyak, dsb), setiap hari orang beraktivitas pun dengan menyimpan asumsi di dalamnya. Contoh dari asumsi itu:  dia berangkat ke tempat kerja karena berasumsi di sana ada sesuatu yang dapat dikerjakannya, atau kalau dia tidak berangkat, dia akan mendapatkan sanksi, setidaknya sanksi sosial (malu), karena orang-orang lain juga berangkat, dan mereka sama-sama dibayar untuk itu.  Tentunya akan sangat berbeda, kalau dari awal dia punya asumsi bahwa di kantor tidak ada yang dapat dikerjakannya, atau di sana dia akan mendapatkan suasana yang tidak enak, yang membuatnya makin lama merasa justru makin membusuk.

Orang mencari sebuah tempat juga menyimpan asumsi.  Minimal, dia berasumsi bahwa alamat yang dituju itu memang ada, bukan fiktif, bukan pula palsu.  Karena itu, di kehidupan nyata, tidak ada orang yang pergi mencari Negeri Dongeng, karena negeri itu memang hanya ada di dalam dongeng di majalah anak-anak.  Demikian pula, se real apapun film Harry Potter, tidak ada orang yang serius mencari sekolah bernama Sekolah Sihir Hogwarts, karena semua berasumsi bahwa itu hanya khayalan.

Setelah berasumsi bahwa tempat yang dituju ada, maka dalam perjalanan ke sana orang juga berasumsi bahwa di jalan raya secara umum orang lain akan mematuhi aturan lalu lintas.  Tanpa asumsi ini, kita akan sangat sulit berperilaku di jalan, misalnya di sisi kiri atau kanan kendaraan kita berjalan, atau kalau lampu lalu lintas berwarna hijau kita sebaiknya jalan terus atau berhenti.   (more…)

Islam Masuk Sampai ke Dapur

Wednesday, July 10th, 2013

Salah satu cara untuk menilai penetrasi kebudayaan adalah dengan melihat dapur suatu rumah tangga di sebuah negeri.  Bagaimana Anda menilai dapur Anda saat ini?  Type masakan apa yang dominan Anda siapkan? Masakan Jawa?  Masakan Padang?  Masakan Cina?  Masakan Barat?  Atau masakan Timur Tengah?

Kalau Anda suka nasi rames, atau gudeg, itu sangat Jawa.  Kalau Anda suka rendang atau sambal goreng, itu Padang.  Kalau Anda suka mie, itu Cina.  Kalau Anda suka roti dengan selai, itu Barat.  Dan kalau Anda suka kebab atau nasi kebuli, itu Timur Tengah.

Baiklah, tapi mungkin ada pertanyaan: apa hubungannya semua ini dengan Islam?  Bukankah itu semua mubah-mubah saja?  Bukankah suka dapur Arab tidak berarti mencerminkan keterikatan dengan Islam – karena dulupun Abu Lahab dan Abu Jahal juga punya dapur Arab.

Benar.  Yang akan kita bahas kali ini memang bukan jenis masakannya, tetapi apa yang dibawa peradaban Islam sampai ke dapur?  Islam membawa setidaknya empat hal sampai ke dapur:

Pertama adalah norma, yaitu bahwa yang dipersiapkan di dapur harus bahan yang halal dan thoyyib, serta diolah dengan cara yang halal pula.  Dengan demikian dapat dipastikan bahwa teknologi pembuatan minuman keras atau pengolahan darah untuk makanan tidak akan berkembang dalam dapur Islam.

Kedua adalah bahan-bahan “baru”, yakni bahan makanan yang baru berkembang setelah sejumlah ilmuwan Muslim menekuni teknik pembuatannya secara praktis, sejak dari pembudidayaan pertaniannya hingga pengolahannya. (more…)

Fisikawan Khilafah Menyemai Masa Depan

Sunday, June 30th, 2013

Meramal yang paling sulit adalah meramal masa depan.  Karena itu, berbeda dengan paranormal, seorang ilmuwan tidak menyebut perkiraan kejadian mendatang yang dihitung secara ilmiah (cuaca atau posisi benda langit) sebagai “meramal”, tetapi “prediksi” atau “extrapolasi”.  Mereka berangkat dari banyak data empiris di masa lampau, mempelajari keteraturan yang diletakkan Allah di atasnya, yang dengan itu mereka bisa memperkirakan apa yang pasti akan terjadi.  Kepastian prediksi ini tergantung akurasi data pengamatan yang dimasukkan, cakupan data, serta posisi dan dimensi objeknya.  Hujan yang turun secara lokal mungkin sulit diprediksi.  Tetapi datangnya badai hurricane skala besar bisa dipastikan beberapa hari sebelum tiba, sehingga cukup waktu untuk melakukan evakuasi.  Sedang gerhana matahari / bulan bahkan sudah bisa dipastikan terjadi berpuluh tahun sebelumnya.  Dalam margin-errornya, semua prediksi ini dapat dikatakan mencapai derajat pasti (qath’i).

Suatu pengetahuan disebut ilmiah, ketika memenuhi tiga syarat: (1) pengetahuan itu berasal dari pengamatan atas kejadian empiris yang bisa diulangi siapapun; (2) kejadian itu bisa dijelaskan semua berdasarkan teori ilmiah yang telah ada sebelumnya; (3) teori itu bisa untuk melakukan prediksi atas kejadan serupa di masa depan.  Sesuatu yang tidak memenuhi tiga syarat itu, tidak termasuk domain dunia ilmiah, walaupun bisa tetap bermanfaat.  (more…)