Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog
April 2nd, 2009

TIGA DOSA TAK TERMAAFKAN

Dalam Epos Harry Potter, dikenal tiga kutukan tak termaafkan.
Siapapun menggunakan kutukan itu, dia akan langsung dikirim ke penjara sihir “Azkaban” di Laut Utara, yang dijaga oleh para Dementor.
Kutukan itu adalah:
1. Kutukan Imperio – yaitu kutukan pengendalian, sehingga orang yang terkena melakukan semua yang diinginkan penyihir, termasuk perbuatan kriminal.
2. Kutukan Cruxiatus – yaitu kutukan penyiksaan.  Sihir dalam epos Harry Potter hanya boleh digunakan untuk membantu pekerjaan yang positif, tidak boleh untuk menyakiti orang lain.
3. Kutukan Avada Kedavra – yaitu kutukan pembunuh.  Dalam dunia sihir, tidak ada yang mampu melawan kutukan pembunuh.  Hanya sebuah keajaiban bahwa Harry Potter tidak terbunuh oleh Avada Kedavra yang dilontarkan Lord Voldemort, konon karena perlindungan cinta yang sempurna dari ibunya.
Tentu saja dalam dunia sihir, ada para pelahap maut pengikut Lord Voldemort yang gemar menggunakan tiga kutukan tadi.  Harusnya mereka diseret ke Azkaban, namun para polisi penegak hukum sihir kewalahan, karena yang harus ditangkap juga menguasai sihir …
Nah dalam dunia ilmiah ada juga TIGA DOSA YANG TAK TERMAAFKAN.
Seorang peneliti yang melakukan salah satu (apalagi ketiga-tiganya) dari dosa tersebut, bisa langsung dikirim ke “penjara ilmiah”, yaitu pengucilan dari komunitas ilmiah.
Dosa tersebut adalah:
1. Dosa “Plagiarism” – yaitu mengklaim pekerjaan orang lain seolah-olah pekerjaannya, sekalipun orang lain itu adalah istrinya atau anak buahnya.  Ini adalah dosa yang sangat berat.  LIPI berhak menurunkan pangkat peneliti hingga dua tingkat, bahkan sampai memecat dari jabatan peneliti, bila seorang peneliti terbukti melakukan plagiarism.
2. Dosa “Tidak-Menyebut-Riwayat” – yaitu mengutip statement, data, tabel, gambar atau rumus yang bukan buatannya sendiri, dan juga belum jadi pengetahuan umum, lalu “lupa” atau “pura-pura lupa” tidak menuliskan sumbernya, atau menuliskan sumber tetapi tidak bisa dilacak orang lain, misalnya bilang “sumber dari internet”. Kalau untuk tulisan populer boleh-boleh saja, tetapi tulisan ilmiah fardhu ain menyebut riwayat dari semua data yang tidak dibuat sendiri.
3. Dosa “Copy-Paste-doank” – meski menyebut sumber dan riwayat, tetapi kalau dalam satu paper, sumbernya hanya satu dua (sekalipun itu tulisannya sendiri yang sudah dipublish di tempat lain) dan itu merupakan 80-90 persen isi paper, dengan pembahasan yang asal jadi, ini juga tidak layak.  Sebenarnya hampir mirip dengan plagiarism, meski agak halus (karena menulis sumbernya),  tetapi berapa dong Angka Kredit yang bisa diberikan untuk karya seperti ini?
Tentu saja ada peneliti yang “lolos” meski sering melakukan dosa-dosa tadi, sehingga bahkan sampai ke jenjang peneliti tertinggi …
Mungkin pembaca bisa menambahkan dosa-dosa yang lain … atau dosa-dosa yang bisa mengganti kedudukan ranking 1-3 di atas …

Incoming search terms:

Tags: ,

.

Leave a Reply