Warning: mysql_real_escape_string(): Access denied for user ''@'localhost' (using password: NO) in /home/fahmi/public_html/wp-content/plugins/statpress/statpress.php on line 1191

Warning: mysql_real_escape_string(): A link to the server could not be established in /home/fahmi/public_html/wp-content/plugins/statpress/statpress.php on line 1191

Warning: mysql_real_escape_string(): Access denied for user ''@'localhost' (using password: NO) in /home/fahmi/public_html/wp-content/plugins/statpress/statpress.php on line 1194

Warning: mysql_real_escape_string(): A link to the server could not be established in /home/fahmi/public_html/wp-content/plugins/statpress/statpress.php on line 1194

Warning: mysql_real_escape_string(): Access denied for user ''@'localhost' (using password: NO) in /home/fahmi/public_html/wp-content/plugins/statpress/statpress.php on line 1197

Warning: mysql_real_escape_string(): A link to the server could not be established in /home/fahmi/public_html/wp-content/plugins/statpress/statpress.php on line 1197
Ramadhan 2013 - Beyond the Scientific Way | Fahmi Amhar Official Blog - Part 2

Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog

BULAN PERUBAHAN – Ramadhan Hari-27: UBAH ESTIMASI

Tuesday, August 6th, 2013

fahmi-amhar-ubah-estimasiSesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu bagaimana mereka menaksir diri, lingkungan maupun masa depannya.

Setiap saat sebenarnya kita selalu melakukan estimasi.  Estimasi adalah pengukuran secara taksiran.  Setidaknya ada tiga macam estimasi:

Pertama: estimasi diri.  Kita menaksir apakah kita ini sesungguhnya mampu melakukan sesuatu, atau butuh sesuatu, benda atau pertolongan misalnya.  Kalau kita menaksir diri terlalu tinggi, lebih hebat dari kenyataan, maka kita disebut “over confidence” (terlalu percaya diri).  Orang yang over confidence memang jadi pemberani atau optimist tetapi juga kadang malas untuk meningkatkan kapasitas dirinya.  Sebaliknya orang yang under-confidence jadi rendah diri, penakut, pesimist, akibatnya malas menghadapi tantangan.  Padahal dia hanya akan berubah nasibnya bila tantangan itu telah ditaklukkan.

Kedua: estimasi lingkungan.  Kita hidup di dunia berhadapan dengan lingkungan maupun orang lain.  Lingkungan kadang tidak bersahabat.  Orang lain tidak selalu sepakat dengan kita.  Karena itu, kita mesti menaksir, apakah lingkungan yang ganas, atau orang yang tidak sepaham itu bisa kita “taklukkan”.  Kalau kita menaksir mereka terlalu tinggi, disebut “over estimate” – kita jadi terlalu khawatir.  Sedang kalau kita menaksir mereka terlalu rendah, disebut “under estimate” – kita bisa jadi takabur.  Jadi kuncinya, kita harus dapat mengestimasi lingkungan seakurat mungkin.

Ketiga: estimasi masa depan.  Masa depan adalah sesuatu yang pasti akan kita datangi, suka ataupun tidak.  Apakah semua yang tersedia di masa depan bakal sesuai dengan harapan kita, atau justru mengancam kita, tergantung pengukuran kita saat ini.  Kalau taksiran kita mengatakan, masa depan harus dihadapi lebih serius, sehingga nanti kita pasti dapat mengatasinya, maka boleh jadi apa yang kita raih malah “beyond expectation”.  Tetapi bila kita tidak menganggap serius, maka hasil yang kita raih semua akan “below expectation”. (more…)

BULAN PERUBAHAN – Ramadhan Hari-26: UBAH KOREKSI

Sunday, August 4th, 2013

fahmi-amhar-ubah-koreksiSesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu cara mereka memperbaiki keadaan (koreksi).

“Setiap manusia di dunia, pasti punya kesalahan, hanya yang pemberani yang mau mengakui …”

Betul.  Yang pemberani itu adalah mereka yang mau melakukan introspeksi.  Dan yang lebih pemberani adalah mereka yang setelah mengakui itu, mau melakukan koreksi diri.  Jangan sudah mengakui salah, tapi diteruskan, dengan alasan “sudah terlanjur basah”, sudah melewati “the point of no return”.

Bagi seorang muslim, tidak ada kesalahan yang lebih berat dari syirik.  Tetapi syirik pun masih bisa bertaubat, selama belum sekarat.  Point of no return-nya adalah sakaratul maut.  Selama belum sampai kesana, siapapun bisa bertaubat.

Di dalam hadits, diceritakan ada 2 wanita pezina yang ahli surga.  Yang satu adalah dari bani Israel.  Dia bahkan pelacur.  Dia ingin bertaubat.  Dalam perjalanannya menuju kampung orang shaleh (tentu saja dia harus meninggalkan “lokalisasi”), dia melihat seekor anjing yang kehausan.  Dia berusaha memberi minum anjing tersebut.  Allah ridha atas perbuatannya, jadilah dia ahli surga.  Kemudian di zaman Nabi ada wanita al-Ghamidiyah yang mengaku berzina dan minta dihukum.  Baru setelah wanita itu mengaku berkali-kali, hingga anak zina yang dilahirkannya disapih, hukum rajam dijalankan.  Ketika Khalid bin Walid yang melontarkan batu kecipratan darah wanita itu, dan Khalid memakinya, Rasul menegur Khalid seraya mengatakan, “Janganlah kau katakan seperti itu wahai Khalid.  Sungguh wanita itu telah bertaubat, dan dia adalah ahli surga”. (more…)

BULAN PERUBAHAN – Ramadhan Hari-25: UBAH VALUASI

Sunday, August 4th, 2013

fahmi-amhar-ubah-faluasiSesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu cara mereka menghargai sesuatu (valuasi).

Apa yang Anda anggap berharga di dunia ini?

Apa yang kira-kira dianggap berharga oleh banyak orang atau oleh pemerintah negara kita?

Untuk melihat seberapa berharga sesuatu, maka kita bisa melihat dari kelangkaannya, dan sejauh mana orang bangga dengannya atau berjuang untuk mendapatkannya atau mempertahankannya.  Bagi pemerintah banyak negara, yang dianggap berharga, dan menjadi indikator keberhasilannya, adalah pertumbuhan ekonomi.  Pertumbuhan ekonomi mencerminkan hasil total kerja keras mereka, kestabilan politik dan keamanannya, kecerdasan rakyatnya, efisiensi birokrasinya, dan sebagainya.

Persoalannya, banyak hal dalam hidup ini yang tidak mudah diukur nilainya dengan satu macam nilai.  Bagaimana kita mengukur harmonisnya sebuah keluarga?  Atau khusyu’nya mereka dalam qiyamul lail?  Atau anak-anak yang dapat berbahagia berlarian bebas di lapangan rumput yang subur sambil main layang-layang?  Atau ikan-ikan yang dapat berenang gembira di taman laut yang tidak tersentuh?

Untuk hal-hal yang memang memiliki nilai madiyah (material value) saja, kita kadang-kadang kesulitan mengukurnya. Berapa nilai hutan kita?  laut kita?  perut bumi kita?  posisi strategis kita di jalur perdagangan dunia?  iklim dan tanah kita yang subur?  kesehatan kita?  pengetahuan kearifan lokal kita? (more…)