Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog
January 28th, 2008

JASA SOEHARTO BAGI SAYA

oleh Fahmi Amhar

Saya jelas orang yang pernah diuntungkan dengan keberadaan Soeharto sebagai Presiden Indonesia selama 32 tahun

Ketika saya kecil, saya pernah diajak ibu saya untuk ikut antri beras.  Tahun 1970 masih banyak kebutuhan pokok yang susah.  Tetapi Repelita-1 telah merubah pemandangan itu.  Antri sembako baru terjadi lagi pasca Reformasi 1998.

Lalu sayapun masuk SD.  Rezim Soeharto begitu perhatian pada hal-hal kecil, sehingga anak SD-pun sudah dikenalkan pada Gerakan Pramuka, pada Senam Pagi Indonesia Indah (SPII), pada Ejaan Yang Disempurnakan, pada Kurikulum 75 (yang belakangan disempurnakan lagi beberapa kali) dan pada Cerdas Cermat.  Wis pokoknya, dari Sabang sampai Merauke, ada keseragaman pola, yang tidak tentu jelek.  Kalau dikerjakan sepenuh hati, Pramuka nyatanya bikin anak jadi mandiri dan bisa memimpin, tapi kalau tidak, ya sekedar capek disuruh baris kayak tentara.  SPII juga kalau tenanan bikin badan segar dan sehat.  Kurikulum 75, yach tergantung gurunya sih.  Tapi guru pada saat itu relatif masih dihormati, tidak seperti sekarang, guru makin nelangsa.  Cerdas Cermat dari level bawah ke atas sampai nasional, cukup mampu membuat anak-anak punya semangat kompetisi, bersaing sehat menjadi yang terbaik.

Di SMP saya bahkan sempat kecipratan beasiswa Supersemar, yang sekarang diributkan itu.  Kontes siswa teladan juga sempat diikutkan, tetapi orang seperti saya jelas tidak terpilih, lha wong pramukanya jeblog, dan prestasinya kurang bisa diteladani … he he …

Era Soeharto juga melahirkan berbagai tradisi baru yang cukup sehat, misalnya Lomba Karya Ilmiah Remaja yang diadakan LIPI.  Wah waktu itu bangga banget, terpilih jadi finalis LKIR LIPI, diundang ke Taman Mini, beramah tamah dan salaman dengan Presiden Soeharto.  Lha siswa SMAN 1 Magelang berapa orang yang pernah salaman sama Presiden?  Sayang yang motret rada bahlul, masak motretnya dari belakang.

Dan itu belum cukup.  Soeharto juga memiliki Menteri Ristek yang jadi idola semua anak sekolah: BJ Habibie.  Dan Habibie punya program yang berani: nyekolahin anak-anak ingusan lulusan SMA ke Luar Negeri!  Dan beberapa alumni SMAN 1 Magelang ini ada yang beruntung ikut terkirim, termasuk saya …

Wah, lha kalau nggak ada Presiden Soeharto, barangkali nggak ada Menristek Habibie, barangkali nggak ada cerita teman-teman yang ke LN, lha gimana, wong sekolah di dalam negeri saja saya pasti akan ngos-ngosan, koq ke LN.  Mimpi apa?

Jadi, kalau egois begini, pastilah, Soeharto itu jasanya pol bagi saya …

Sayangnya di dunia ini, tidak hanya hidup orang-orang yang mendapatkan jasa dari Soeharto.

Saya bertemu dengan orang-orang yang pernah dijebloskan ke “pesantren Nabi Yusuf” (maksudnya penjara!), tanpa proses pengadilan, hanya karena mereka ini ustad yang menyitir beberapa ayat Qur’an – yang konon kalau kedengaran Soeharto (atau Soedomo) akan dicab subversif.  Tak heran,  tahu-tahu besoknya dijemput babinsa, dibawa ke koramil, dan masuk hotel prodeo.  Tapi mungkin kelompok ini masih harus berterima kasih sama Soeharto.  Karena di penjara mereka justru dihormati.  Dan di penjara, mereka ada yang justru sempat menghafalkan Qur’an, membaca ribuan buku, bahkan menulis buku, dan keluar dari penjara tampak jauh lebih “sakti”.

Saya juga merasakan penataran P4, wah entah total berapa ratus jam.  Di SMP dapat, di SMA dapat lagi, di ITB dapat lagi, keterima beasiswa OFP dapat lagi.  Termasuk ikut regu Cerdas Tangkas P4, sampai juara se Magelang, tapi sebenarnya lebih cocok disebut lomba “Robot Tangkas”, karena kami benar-benar menjawab seperti robot, bahkan jawaban sudah bisa keluar sebelum pertanyaan dibaca seperempatnya …. 

Lebih lucu lagi ada pembekalan KBG (Keluarga Besar Golkar).  Sebagai karyasiswa di LN, kami diundang ke KBRI untuk pembekalan menghadapi pemilu, dan seperti biasa pemilu baru sukses bila golkar menang!  Sejak jadi mahasiswa, dan agak “nek” dengan situasi dagelan di tanah air, saya nekad mbolos dari pembekalan di KBRI itu.  Anehnya, meski sama sekali absen, saya tetap dapat piagam sebagai “peserta pembekalan KBG terbaik!”.  Coba, apa tidak ruar biasa …

Jangan-jangan memang jasa Soeharto bagi banyak orang adalah jasa-jasa semu.  Laporan Asal Bapak Senang sudah biasa di masa itu, “Laporannya sesuai petunjuk Bapak Presiden”, apalagi pers tidak bebas mengungkap kenyataan.  Kalau berani mengungkap siap-siap saja dibreidel seperti Sinar Harapan, Tempo dan Detik, atau di-Udin-kan.  Pekerja kalau vocal siap-siap di-Marsinah-kan …

Orang sering menganggap, zaman Soeharto semuanya lebih enak, stabil, sembako murah, sekolah murah dan sebagainya.

Namun lupa, atau buta, bahwa kondisi susah sekarang ini akibat Soeharto juga.

Yaitu ketika dia membuka keran utang.  Lama-lama Utang LN jadi parah sekali.  Bunga berbunga.  Setiap bayi yang lahir di Indonesia, langsung menanggung utang minimal Rp. 7 juta!  Dia juga yang mempersilakan perusahaan-perusahaan asing masuk, diberi konsesi tambang atau hutan, sampai beberapa puluh tahun ke depan, yang entah reformasi sudah jilid berapa, situasi ini belum berubah.

Ini belum termasuk sepak terjang anak-anak dan kroninya.  Tahun 1990-an dia membuat BPPC, dan Tommy punya hak monopoli cengkeh.  Akibatnya investasi kakak saya yang menanam 800 pohon cengkeh dan siap panen, musnah seketika.  Pohon cengkehnya akhirnya ditebang saja dan dijual kayunya.

Belum dagelan dengan proyek-proyek kroni.  Ada dana reboisasi untuk membuat pemetaan dengan radar atau pembukaan lahan gambut 1 juta hektar.  Supaya tidak kelihatan norak, dana itu dimasukkan ke suatu departemen atau LPND.  Tetapi tendernya sudah diatur, pokoknya yang dapat harus Bob Hasan atau Tommy.  Ya berjasa juga sih, paling tidak untuk memperkaya para kroni itu dan para begundalnya …

Lagipula, tidak fair juga melihat harga-harga di masa itu dibandingkan harga sekarang.  Saat saya SD tahun 1970-an, harga semangkuk bakso hanya Rp. 25,-  Tahun 1986, harga semangkuk bakso yang sama Rp. 500,-  dan sekarang tahun 2008 harganya Rp. 5000,-.   Kuncinya ada pada inflasi, bukan pada Soeharto atau siapa …  Memang sih, Soeharto berjasa juga, menjaga inflasi tetap 1 digit, tidak 2 atau 3 digit seperti di Turki atau Yugoslavia …

Yang membuat kita merasa bertambah miskin adalah, karena pertumbuhan penghasilan kita tidak sebesar inflasi.  Tahun 1986, gaji PNS baru masih sekitar Rp. 100.000,- jadi setara dengan 200 mangkuk bakso.  Yach cukup lah untuk hidup sebulan, kalau makan cukup bakso 90 mangkuk.  Separuhnya buat ngontrak rumah dan ongkos transport, yang saat itu juga bus kota masih Rp. 200,-

Sekarang, PNS baru bergaji Rp. 1 juta, tetapi dengan bakso semangkuk Rp. 5000, gaji tadi juga hanya setara 200 mangkuk!  Bus kota juga sekarang Rp. 2000,-  Pembangunan dapat dikatakan berjalan di tempat.  Padahal sumber daya alam kita sudah banyak yang terkuras, hutan kita sudah banyak yang dibotakin, dan utang kita makin banyak.  Kita habis waktu … Umur kita makin tua ….

Kalau orang menunjuk kroni-kroni dan begundal Soeharto yang membuat Indonesia makin runyam, kenapa ya, orang tidak menunjuk para punakawan Soeharto yang membuatnya pernah dianggap “berjasa” – setidaknya untuk saya. 

Bagaimanapun seorang Presiden tidak akan sempat mengurus yang detil.  Tugas dialah untuk menghimpun orang-orang hebat di sekitarnya, untuk membantunya mewujudkan sesuatu yang hebat, dengan memberinya visi yang hebat.  Jadi ya tanggungjawabnya juga, kalau ternyata, orang-orang di sekelilingnya itu justru para pecundang, yang membuat Indonesia jadi negara pecundang kayak sekarang.

Di antara pecundang itu ada yang sudah mendahului Soeharto.  Bahkan ada yang bilang, di akherat sana, Soeharto pasti bisa membentuk Orde-Baru-II.  Di sana ada wakil presiden, ada menteri, ada pangab, cukup lah pokoknya.

Tapi masih banyak juga yang berkeliaran di sekitar kita, dan sok lebih reformis dari orang-orang yang sebelum Soeharto lengser selalu dilecehkan dan diintimidasi.

Dan suatu hari nanti, kita pasti akan “menyusul” Soeharto juga.

Koq sudah mau nyusul Soeharto, amalnya sudah cukup apa?

Incoming search terms:

Tags: ,

.

Leave a Reply