Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog
March 25th, 2009

Ketika para Seniman Orang-orang Beriman

Dr. Fahmi Amhar

Apa yang terbayang bila ada berita bahwa ada saudara kita menjadi artis atau hidup sebagai seniman?  Hidup mewah sebagai selebriti?  Atau sebaliknya tidak punya pekerjaan yang jelas dan awet serta jauh dari komunitas orang-orang beriman?  Semua ini adalah stereotip para seniman.  Apapun jenisnya.

Adalah menarik untuk mendapatkan realitas bahwa pada zaman keemasannya, negara Islam bukanlah sebuah negeri yang dingin dan kaku.  Di sana, selain terdapat banyak ulama mujtahid yang membuat hidup jadi terarah, lalu para ilmuwan dan insinyur yang membuat hidup lebih mudah, juga bertebaran para seniman yang membuat hidup lebih indah.  Dan eloknya lagi, para seniman ini adalah orang-orang yang beriman, yang menjadikan iman sebagai poros hidupnya, bukan sebaliknya!

Secara umum, dunia seni dapat dibagi dalam 5 macam: (1) seni rupa; (2) seni sastra; (3) seni suara – termasuk musik; (4) seni gerak – termasuk balet atau akrobat; (5) seni gabungan, misalnya theater.

Ketika aliran naturalis yang menggambar atau membuat patung hewan atau manusia diharamkan, para perupa muslim dapat tetap menuangkan kreativitasnya dalam bentuk-bentuk abstrak yang memerlukan jiwa seni dan kemampuan matematis yang lebih tinggi, misalnya dalam bentuk kaligrafi yang rumit yang juga tertuang pada karpet atau keramik, arsitektur masjid yang canggih, atau taman kota yang simetri.  Bentuk seni rupa yang membawa pemirsanya serasa mi’raj ke dimensi spiritual, dimensi ilahiyah.

Lafaz Basmallah untuk membentuk burung bangau

Kaligrafi pada dinding masjid Alhambra, Spanyol

Dunia sastra juga menggelora dengan karya-karya yang menggugah.  Berbagai hikayat dari zaman pra Islam dimodifikasi dan diberi semangat iman.  Karya sastra yang paling legendaris tentu saja adalah “Kisah 1001 malam”, dengan tokoh ratu Persia Syahrazad yang setiap malam tak lelah mendongeng kisah-kisah fantastis seperti Aladin, Ali Baba atau Sinbad ke suaminya Raja Syahriar, dan baru berhenti saat adzan Shubuh pada titik yang membuat orang penasaran.  Setelah 1001 malam, ada perubahan sikap yang signifikan dari Raja Syahriar, yang semula dikenal sebagai raja yang paranoid, yang karena takut dikhianati, selalu menyingkirkan istrinya pada hari kedua pernikahannya.  Namun Syahrazad berhasil mengubah kebiasaannya itu dengan sebuah dongeng yang indah.

Karya sastra juga sering dirangkai untuk memberikan pelajaran.  Ibnu Malik membuat puisi 1000 bait yang dikenal dengan “Alfiah Ibnu Malik” untuk memberikan pelajaran bahasa Arab secara komprehensif.  Barangsiapa hafal 1000 bait tersebut, dia telah belajar dan menguasai nahwu, sharaf dan balaghah sekaligus.

Seni suara dapat digunakan untuk terapi mental.  Bacaan al-Qur’an dapat dilantunkan dengan suara yang indah untuk suasana apapun, sedih ataupun gembira.  Rasulullah membolehkan lagu dan musik dimainkan untuk mengiring acara gembira seperti walimah nikah.  Semula yang berkembang adalah nasyid, konsert vokal tanpa instrumen – atau di Barat dikenal dengan “Accapella”.  Berbagai lirik nasyid yang penuh makna diciptakan untuk berbagai peringatan, misalnya Maulid Nabi.  Konon Salahuddin al-Ayyubi mengadakan sayembara untuk itu, agar masyarakat ingat kembali pada Sirah Nabawiyah dengan cara yang indah dan menyenangkan.  Kiat ini dilakukan untuk memperkuat kembali kaum muslim dalam menghadapi tentara Salib.

Namun dalam instrumen musik, umat Islam tak hanya mengenal rebana sebagai satu-satunya alat musik yang sudah dikenal di zaman Nabi.  Khilafah Islam mewarisi berbagai alat musik bangsa-bangsa yang ditaklukannya sekaligus memperkayanya dengan alat-alat musik baru.  Sekalipun ada ikhtilaf di antara para fuqoha dari yang menghalalkan dan mengharamkan musik, tokoh Al-Farabi tetap meneliti dan menciptakan berbagai alat musik yang sebelumnya tidak dikenal, seperti piano.  Dia juga menemukan hubungan matematis antara tinggi tiap nada dan hubungan ritme dengan kejiwaan seseorang.

Dalam hal seni gerak, seni akrobat sudah diterima oleh Rasulullah, bahkan beliau telah menyaksikan pertunjukan suatu tim dari Habasyah bersama Ummul Mukminin Aisyah di masjid.  Seni gerak ini kemudian berkembang pesat di kalangan shufi, seperti halnya kaum Darwish di Turki, yang mendapatkan semacam perasaan “ectasse” ketika berputar-putar ratusan kali sambil berzikir.

Sedang seni teater dikenal baik yang dimainkan oleh orang maupun dalam bentuk boneka – yang di Indonesia kemudian berkembang dalam bentuk wayang.  Seni ini sudah dikenal di masa Abbasiyah kira-kira 1000 tahun yang lalu dengan mengambil episode dari sejarah Islam.  Para khalifah Utsmaniyah, termasuk Sulaiman al-Qanuni juga dikenal sangat antusias menonton sandiwara boneka.

Yang menarik dari semua ini adalah sebuah fakta, bahwa kaum muslim mempelajari dan menerjemahkan buku-buku seni dari berbagai penjuru, memodifikasinya dan mengembangkannya.  Namun mereka tak pernah merasa perlu mempelajari dan menerjemahkan buku-buku hukum, meski dengan alasan akan dimodifikasi.  Ini karena mereka paham, bahwa sebagai sumber hukum, Qur’an dan Sunnah sudah sempurna, dan tak mungkin orang tersesat selama berpegang pada keduanya.

Incoming search terms:

Tags: , ,

.

Leave a Reply