Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog
July 27th, 2010

Pencari Ilmu Pencari Tuhan

Dr. Fahmi Amhar

Hari-hari ini tahun ajaran baru di sekolah-sekolah dimulai. Anak-anak kecil yang baru masuk sekolah masih antusias dengan lingkungan dan teman-teman baru.  Anak-anak yang lebih besar tampak kurang bersemangat.  Liburan yang menyenangkan telah lewat.  Kini rutinitas yang menjemukan telah dimulai lagi.

Menjemukan?  Ya, di negeri ada ribuan sekolah dan jutaan siswa.  Mereka menghabiskan banyak waktu, tenaga dan biaya.  Mereka melakukan banyak hal, kecuali belajar.  Mereka mendapatkan banyak hal, kecuali ilmu!

Ironis.  Tapi itulah kenyataannya.  Salah satu penyebab murid tak bersemangat adalah guru yang tak termotivasi.  Dan salah satu penyebab guru tak termotivasi adalah pemerintah yang tidak memiliki visi.  Bagi pemerintah, pendidikan adalah urusan kesejahteraan rakyat yang menghabiskan uang, bukan urusan perekonomian yang mendatangkan uang.  Pendidikan tidak pernah dipandang sebagai suatu investasi.  Kalaupun ada pendidikan yang dianggap investasi, itu hanyalah program studi tertentu saja yang nanti alumninya akan menjadi profesional yang dapat menangguk penghasilan tinggi.  Jadi kalau swasta dilibatkan, mereka hanya tertarik membuka sekolah yang prospektif secara bisnis.  Maka sekolah swasta juga hanya tertarik menjaring siswa yang kaya atau yang cerdas.  Mereka yang kaya meski kurang cerdas, atau miskin namun cerdas, akan mendapatkan solusi pendidikannya.  Yang kaya bisa membayar.  Yang miskin namun cerdas bisa mendapatkan beasiswa atau pinjaman.  Pemberi beasiswa atau pinjaman yakin itu investasi.

Namun siapa yang akan memikirkan mereka yang kurang cerdas dan juga miskin?  Karena miskin mereka kurang gizi, akibatnya kurang tenaga untuk belajar, jadinya kurang cerdas, sehingga tidak punya banyak pilihan dalam mencari nafkah, sehingga penghasilannya rendah, miskin.  Harus ada yang memutus lingkaran setan ini!

Negaralah yang harus memutusnya.  Negara dengan pemimpin pemerintahan yang memiliki visi.  Inilah yang terjadi dengan Daulah Islam sejak berdirinya.

“Setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, hukumnya fardhu mencari ilmu” kata Rasulullah.  Mencari ilmu dimasukkan dalam ibadah.  “Kejarlah ilmu sampai ke liang lahat” – jadi mencari ilmu tidak berakhir dengan tercapainya gelar S3.  Rasulullah juga menekankan, “Barang siapa mencari ilmu, dia sedang mencari Tuhan”, “Mempelajari ilmu bernilai seperti puasa, mengajarkan ilmu bernilai seperti shalat, barangsiapa mati dalam perjalanan mencari ilmu, dia seperti mati syahid dalam jihad fi sabilillah”.  Pencarian ilmu akan memperdalam pengenalan seorang muslim pada Rabbnya.  Semua ilmu berasal dari Allah dan ditujukan kepada Allah.  “Kejarlah ilmu, dari sumber manapun!”, “Terimalah ilmu, sekalipun dari lisan seorang musyrik”.

Motivasi inilah yang menyebabkan bangsa Arab tiba-tiba menjadi “ilmu-mania” nomor satu di dunia.

Ketika Barat terjebak dalam kurungan kegelapan, dan menganggap kebenaran hanya ada di kitab suci, sedang pendapat para ilmuwan yang ada saat itu sebagai sumber kesesatan, kaum muslimin justru melihat bahwa Al-Quran adalah pedoman hidup, sedang ilmu-ilmu kehidupan seperti sains dan teknologi, adalah sesuatu yang wajib dipelajari dari mana saja, sekalipun sampai ke Cina.

Maka, tak sampai seabad setelah Islam memulai futuhat dan Quran selesai diwahyukan, ilmu pengetahuan mekar seperti lautan bunga musim semi setelah musim dingin.

Dan apa yang terjadi saat suatu futuhat (penaklukan) suatu negeri terjadi?  Bukan penyerahan senjata, kunci pertambangan penting atau harta benda berharga yang menjadi syarat perjanjian perdamaian, namun seperti Khalifah Harun ar-Rasyid ketika menaklukkan Amuria dan Ankara: penyerahan buku-buku manuskrip Yunani kuno!  Buku-buku yang sebenarnya telah ratusan tahun terabaikan dan dilupakan oleh dunia Kristen.

Buku-buku itu tidak kemudian dikonservasi dan disimpan di museum, namun dihidupkan kembali untuk dibawa ke era modern.  Caranya?  Diterjemahkan!

Buku-buku itu tidak diterjemahkan ke bahasa yang hanya dikuasai segelintir kaum elit, seperti halnya bahasa Latin di Eropa; namun diterjemahkan ke bahasa yang pasti akan hidup hingga akhir zaman, yaitu bahasa Qur’an: bahasa Arab!  Setiap muslim wajib mempelajari Qur’an, jadi setiap muslim wajib dapat membaca dan mengerti tulisan Arab.  Maka dengan menerjemahkan semua buku-buku ilmu ke dalam bahasa Arab, itu berarti membuka akses ilmu bagi semua orang.

Kesuksesan pekerjaan penerjemahan tidak sedikitpun di bawah kesuksesan pekerjaan pengumpulan buku.  Harun ar-Rasyid memerintahkan untuk mendatangkan para pakar segala bahasa ke istananya.  Mereka bekerja di bawah koordinasi Yahya bin Masawih menerjemahkan segala buku ilmiah yang bisa diperoleh dari manapun hingga saat itu.  Untuk memperbanyak tim penerjemahan, Khalifah al-Makmun mendirikan Akademi Penerjemahan.

Begitulah, para ulama Islam dengan penerjemahannya telah menjaga karya-karya ilmiah antik dari kehilangan total.  Tanpa pekerjaan mereka, dunia kita sekarang tidak akan mengenal buku anatomi dari Galens; buku mekanika dan matematika dari Heron, Philo dan Menelaos; buku astronomi dari Ptolomeus; buku geometri dari Euklides; buku tentang irisan kerucut dari Appolonius; buku tentang kesetimbangan di air dari Archimedes dan sebagainya.

Buku-buku itu kemudian disalin ribuan kali oleh para waraqin (yang berfungsi seperti mesin foto copy), kemudian dikirim ke perpustakaan-perpustakaan.  Setiap masjid punya perpustakaan.  Setiap rumah sakit memiliki ruang tunggu yang lengkap dengan perpustakaan.  Dan semua orang dapat membaca atau meminjamnya.  Sebuah kota kecil seperti Najaf di Iraq saja abad 10 M memiliki perpustakaan dengan koleksi 40.000 buku!  Perpustakaan itu menjadi bursa ilmu pengetahuan yang paling mudah, tempat orang dapat bertemu dengan para pakar untuk bertransaksi ilmu.  Dan ilmu – seperti kata Imam Ali – adalah sesuatu yang ketika diberikan tidak berkurang, namun justru bertambah!

Belajar menjadi murah, ketika akses ilmu pengetahuan dibuat mudah oleh negara.  Negara memiliki visi yang dibuktikan dengan tindakan. Negara mempromosikan ilmu sehingga rakyat cinta ilmu, sehingga orang-orang kaya berlomba wakaf fasilitas pembelajaran, sehingga para cerdik pandai mencari ilmu dan mengajarkannya dengan semangat mencari Tuhan.

Maka spiral kegelapan pada mereka yang kurang cerdas dan miskin pun terputus.  Tidak ada orang miskin yang terhalang belajar oleh kemiskinannya.  Dan tidak ada orang yang dianggap kurang cerdas dalam mencari Tuhannya.

Incoming search terms:

Tags: ,

.

Leave a Reply