Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog
October 27th, 2010

Jerman, Mantan Sekutu Sultan

masjid di muenchen

masjid di muenchen

Tahukah Anda bangsa pengonsumsi bir terbanyak di dunia?  Itulah Jerman!  Di Munich bahkan setiap bulan Oktober ada Festival Minum Bir (Oktober Fest). Anehnya, meski gemar mabuk, produk industri teknologi Jerman termasuk yang terbaik di dunia. Siapapun tahu kualitas mobil Mercedes atau elektronik dari Siemens.  Bayangkan andaikata mereka Muslim dan tidak pernah mabuk, tentu produk mereka tak akan tertandingi.

Lantas apakah di Jerman ada Muslim!  Oh banyak.  Mereka datang pertama-tama sebagai bagian diplomasi atau hubungan ekonomi antara Jerman dengan Sultan-sultan Utsmani di abad-18.  Pada tahun 1745, Frederick II dari Prussia mendirikan suatu korps kaveleri Muslim di tentaranya.  Pada tahun 1760 korps yang mayoritas etnis Bosnia ini mencapai 1.000 laki-laki.

Pada 1798 sudah ada kuburan Islam di Berlin. Pada tahun 1900, sudah ada 10.000 Muslim di Jerman.  Dalam Perang Dunia I, lebih dari 15.000 Muslim memenuhi penjara-penjara perang di Berlin.  Masjid pertama didirikan di Berlin tahun 1915 untuk para tahanan Muslim itu, meskipun kemudian ditutup tahun 1930.  Tahun 1932 sudah ada Islam Colloquium sebagai institusi pendidikan untuk anak-anak Muslim Jerman.  Ketika Nazi mulai berkuasa, mereka tidak menjadikan Muslim sebagai target, namun Muslim Jerman hidup dalam atmosfer xenofobia dan rasis sebagai non-Arian.  Pada akhir Perang Dunia II tinggal ada beberapa ratus Muslim saja di Jerman.

Pasca perang, pemerintah Jerman Barat mengundang pekerja migran (“Gastarbeiter”) untuk ikut membangun lagi Jerman.  Dalam dua dekade, jumlah mereka beserta keluarganya menjadi 4,3 juta orang.  Dengan populasi Jerman sekitar 83 juta jiwa, maka ini baru sekitar 5 persen. Belum signifikan.  Namun menurut TV Jerman, pada tahun 2006 ada lebih dari 4.000 muallaf di Jerman, atau lebih dari 10 orang per hari. Trennya meningkat.  Apalagi masyarakat Jerman semakin banyak yang atheis dan malas memiliki anak.

Sementara itu komunitas Muslim seperti membentuk “masyarakat paralel” di Jerman dengan pusat di masjid.  Hampir di tiap kota industri di Jerman ada masjid.  Sebagian besar sudah berupa masjid utuh dengan menara.  Masjid-masjid ini selain untuk tempat ibadah, kantin halal, toko informasi, tempat pendidikan anak-anak, juga asrama sementara bagi Muslim yang belum memiliki tempat tinggal tetap.  Kalau Anda bertekad keliling Jerman dan bekalnya dirasa kurang untuk menginap di hotel, anda dapat “mabit” dari masjid ke masjid, insya Allah diterima dengan tangan terbuka.  Penulis pernah menginap di masjid Munchen.  Masya Allah, yang menginap di situ ternyata lebih dari 100 orang!

Persoalan pelik yang kadang menghantui Muslim di Jerman ada dua: (1) Daerah-daerah yang sangat otonom dalam menerapkan peraturan terhadap minoritas Muslim.  Ada beberapa daerah yang melarang menggunakan jilbab di sekolah publik, menyembelih ternak secara Islam atau bahkan mendirikan masjid.  (2) Ada Undang-undang yang sangat sensitif terhadap isu anti semit atau anti Yahudi, sehingga setiap khatib atau ustadz yang membacakan ayat yang terkait Yahudi (misalnya QS 2:120, 5:82, dll), di tempat publik bisa-bisa tersandung hukum.  Aturan inilah yang membuat HT di Jerman dilarang.

Kondisi ini agak sulit diatasi, karena Muslim di Jerman tidak punya wadah yang satu seperti halnya di Austria. []

Incoming search terms:

Tags: , , ,

.

Leave a Reply