Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog
January 6th, 2011

Bila Belanda Menerima Syariah?

Masjid id Den Haag

Masjid id Den Haag

Apa yang Ada bayangkan mendengar kata “Belanda”?  Tulip?  Kincir Angin?  Sepak bola?  Atau bekas penjajah dan tokoh “Party for Freedom” Geert Wilders yang membuat film “Fitna” yang menyerang Islam?
Tahukah anda bahwa menurut Statistics Netherlands, 5 persen populasi Belanda (atau lebih dari sejuta orang) adalah Muslim.  Dari 850.000 warga negara Belanda yang Muslim, 38 persen berasal dari etnis Turki, 31 persen Maroko, 26 persen Asia/Afrika lain, 4 persen Eropa lain, dan hanya 1 persen yang etnis Belanda.  Di Belanda terdapat sekitar 400 masjid, di antaranya 200 masjid Turki, 140 masjid Maroko dan 50 masjid Suriname. Selain itu juga terdapat 45 sekolah dasar dan 2 SMA Islam.
Sebagian besar Muslim tinggal di empat kota terpenting Belanda, yaitu Amsterdam, Rotterdam, Den Haag dan Utrecht.  Mereka terkonsentrasi di komunitas rendah penghasilan dengan kualitas perumahan yang rendah, pengangguran kronis dan tingkat kriminalitas yang tinggi.  Mereka biasa bergabung dalam organisasi-organisasi yang satu etnis, sehingga wajar bila etnis Turki memiliki organisasi terbanyak, diikuti Maroko, namun ada jejaring di antara organisasi ini seperti The Contact Body for Muslims and Government (CMO), yang menaungi sekitar 80 persen komunitas Muslim dan Contact Group Islam (CGI).
Menarik untuk melihat, bahwa kondisi Muslim migran di Belanda yang secara umum tetap terpinggirkan (marjinal) membuat generasi kedua yang lahir di Belanda (sehingga kurang menguasai bahasa asli etnisnya) akhirnya lebih mengidentifikasi diri dengan agamanya (yaitu Islam) daripada asal usul nasionalitasnya.
Pada pemilu 2003, sedikitnya 10 dari 150 legislator yang berlatarbelakang Muslim, meskipun hanya 3 dari mereka yang masih menjalankan Islam, sedang dua orang malah eksplisit menyatakan diri sebagai “ex-Muslim”.  Nehayat Al-Bayrak (Menteri Negara Hukum) dan Ahmed Aboutaleb (Menteri Negara Urusan Sosial dan Pekerjaan) yang kini walikota Rotterdam adalah Muslim-Muslim pertama yang duduk di kabinet pemerintah Belanda.
Sejarah Islam di Belanda dimulai awal abad-17 ketika terjadi perjanjian antara Belanda dengan Maroko untuk bekerja sama membendung kekuatan Spanyol.  Sejak abad-19, Belanda mulai mengalami migrasi sporadis dari Indonesia yang menjadi jajahannya.  Sedang booming ekonomi dari 1960-1973 mendorong Belanda merekrut banyak sekali tenaga kerja dari Turki dan Maroko, dan migrasi mereka berlanjut sebagai cara penyatuan kembali keluarga.  Kemudian tahun 1975 berdatangan Muslim dari Suriname menyusul kemerdekaan Suriname.  Sedang era 1980-1990an, berdatangan Muslim dari beberapa negeri yang dilanda konflik seperti Bosnia, Somalia, Iran, Pakistan dan Afghanistan.
Isu-isu Islam terakhir yang masih hangat di Belanda adalah pembunuhan Theo van Gogh oleh Mohammed Bouyeri, pada 2 November 2004.  Theo van Gogh adalah tokoh di balik pelecehan terhadap Nabi Muhammad, antara lain berupa kartun Nabi.  Karena Belanda sudah menghapuskan hukuman mati, Bouyeri saat ini dijatuhi hukuman seumur hidup dengan dakwaan terorisme.  Bouyeri sama sekali tidak menyesali perbuatannya.  Namun sejak itu, bermunculan website yang mendukung Bouyeri, dan pada saat yang sama kekerasan terhadap umat Islam pun makin sering terjadi.  Anne Frank Foundation dan University of Leiden menghitung total 174 kekerasan, dengan masjid sebagai target 47 kali dan gereja 13 kali.

Mevlana Mosque di Rotterdam

Mevlana Mosque di Rotterdam

Mei 2006, sebuah polling pada 1.200 warga Belanda menemukan, bahwa 63 persen merasakan bahwa Islam tidak sesuai dengan kehidupan Eropa modern.  Polling sejenis menemukan bahwa 68 persen merasa terancam oleh imigran atau pemuda Muslim, dan 47 persen khawatir bahwa suatu saat mereka harus hidup dengan aturan Islam di Belanda.  Ketakutan ini wajar karena kehidupan budaya yang nyaris terpisah.  Sebagian besar Muslim hidup pada komunitas etnisnya sendiri, dan sebaliknya sebagian besar orang Belanda asli hanya punya sangat sedikit kontak atau bahkan tidak sama sekali dengan immigran atau Muslim.
Pada 2006, Menteri Kehakiman Piet Hein Donner mengeluarkan pernyataan bahwa Negeri Belanda kemungkinan menerima syariah sebagai sumber konstitusi.  “It is a sure certainty for me: if two thirds of all Netherlanders tomorrow would want to introduce Sharia, then this possibility must exist. Could you block this legally? It would also be a scandal to say ‘this isn’t allowed! The majority counts. That is the essence of democracy.” [Algemeen Nederlands Persbureau (Expatica), 2006-08-13, archived from the original on 2006-08-13, http://web.archive.org/web/ 20070929120452/ http://www.expatica.com/actual/ article.asp?subchannel_id=1&story_id=33017, retrie ved 2008 03-15].  Pernyataan ini langsung ditolak seluruh partai, termasuk oleh seorang tokoh Muslim.[]

Incoming search terms:

Tags: , , , ,

.

Leave a Reply