Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog
March 27th, 2011

Ketika di Tunisia Islam Berjaya

Dr. Fahmi Amhar

Tunisia bergolak.  Rakyat turun ke jalan.  Presiden Ben Ali lari.  Tirani sekian puluh tahun pun berganti.  Berganti, bukan berhenti.  Mungkin akan muncul tirani baru yang belum disadari.  Bukan sistem baru.  Tirani baru yang tetap akan melarang wanita memakai jilbab di ruang publik.  Tirani baru yang akan tetap berhamba kepada hukum sekuler warisan Barat.  Padahal Barat yang diperhamba ternyata lepas tangan, tidak mau menolong Presiden Ben Ali, saat rakyat mengusirnya.

Sayang sekali.  Padahal Tunisia adalah mutiara di Afrika yang ditinggalkan peradaban Islam pada masa jayanya.  Pada pergantian abad ke-7 ke abad ke-8 M, wilayah Tunisia dibuka oleh kaum muslim.  Mereka mendirikan kota Kairouan, yang menjadi kota pertama Afrika utara.  Di kota ini pula berdiri masjid dengan seni arsitektur terindah di dunia Islam bagian barat.

Pemerintahan Islam juga membangun instalasi irigasi yang ekstensif untuk menjamin kota dan daerah pertanian dengan air.  Akhirnya kemakmuran yang diraih itu memungkinkan untuk membangun istana Al-Abassiyah pada tahun 809 M dan Raqadda tahun 877 M.  Sebuah universitas juga dibangun.

Tunisia menjadi matahari peradaban ke dua di dunia Barat mengiringi Cordoba, sebagaimana Cairo menjadi pengiring Baghdad di dunia timur.  Para ilmuwan besar pun muncul atau berdatangan untuk penelitian di Tunisia.  Namun dari seluruh ilmuwan yang dibesarkan atau berkarier di Tunisia, tidak diragukan bahwa yang paling dikenang adalah Ibnu Khaldun, sampai-sampai pemerintah sekuler membuatkan patungnya di Tunis.

Abū Zayd ‘Abdur-Rahman bin Muhammad bin Khaldūn Al-Hadrami (1332 – 1406 M) dari Tunisia adalah seorang polymath yang menguasai banyak keahlian sekaligus; beliau adalah hafiz (penghafal puluhan ribu hadits), faqih (pernah menjabat qadhi utama untuk madzhab Maliki di Mesir), astronom, geografer, matematikawan, sosiolog, ekonom, politolog dan sejarahwan.  Riwayat Ibnu Khaldun terdokumentasi dengan amat bagus, karena sebagai sejarahwan, dia juga menulis autobiografi: At-Taʻrīf bi Ibn-Khaldūn wa Riħlatuhu Gharbān wa Syarqān.  Namun tentu saja bukunya yang paling terkenal adalah “Muqaddimah” (diterjemahkan ke bahasa Latin menjadi “Prolegomenon”), yaitu juz pertama dari tujuh juz buku sejarah dunia universalnya “Kitab al-Ibar”.

Sejarahwan terkenal Inggris Arnold J. Toynbee menyebut Muqaddimah adalah karya terbesar dalam filsafat sejarah yang pernah dibuat pikiran manusia sepanjang masa.  Bahkan ahli Inggris lainnya, Robert Flint menulis bahwa Plato maupun Aristoteles belum mencapai jenjang intelektual setaraf Ibnu Khaldun.

Di antara pemikiran jenius Ibnu Khaldun adalah ketika mendefinisikan pemerintahan sebagai “institusi pencegah kezaliman“.  Negaralah yang harus berdiri di pihak para korban ketika menghadapi kekeliruan atau kelalaian yang dilakukan orang-orang kaya.  Negara juga yang harus memperjuangkan hak-hak kaum dhuafa ketika pasar tidak berfungsi sepenuhnya. Ini adalah teori terbaik dalam ilmu politik.  Sedang konsep Ibnu Khaldun dalam meramalkan kegagalan ekonomi pasar dinilai sebagai dasar-dasar sosionomi (sosiologi-ekonomi).  Teori Ibnu Khaldun ini ternyata masih cocok untuk menganalisis akar krisis finansial global yang melanda Amerika tahun 2008.

Teori pasang surut peradaban dari Ibnu Khaldun juga berlaku untuk negerinya sendiri.  Zaman keemasan Tunisia ternyata memiliki sisi gelap yang dimulai dari mengendurnya dakwah tauhid, yakni dakwah yang menolak semangat ashabiyah (kesukuan / tribal). Ketika pemerintah pusat Khilafah sedang direpotkan oleh separatisme dinasti Fatimiyah di Mesir, Afrika Utara nyaris terabaikan.  Akibatnya muncullah instabilitas politik karena perebutan kekuasaan antar kabilah.  Kondisi ini berakibat mundurnya pertanian dan perdagangan.  Ibnu Khaldun sendiri pada masanya menulis bahwa banyak tanah pertanian yang kemudian berubah kembali menjadi gurun pasir, karena irigasi tidak lagi berfungsi.  Salah satunya adalah tanah-tanah yang diduduki oleh Banu Hilal.

Peradaban memang naik turun seperti gelombang.  Kemunduran Tunisia akhirnya menjadikan daerah ini diduduki oleh orang-orang Kristen Norman dari Sizilia pada awal abad-12.  Kaum muslim Arab kemudian merebutnya kembali, memaksa orang-orang yang murtad untuk kembali ke Islam, atau mengusirnya.  Pada 1159 wilayah ini berada di bawah kekuasaan kekhalifahan Almohad dari Andalusia, yang merupakan pecahan khilafah Umayyah di Cordoba.  Kemudian dari 1230 – 1574 M, Tunisia berada di bawah kekuasaan dinasti Berber Hafsid, yang dapat kembali memakmurkan Tunisia.  Ini adalah kurun ketika Ibnu Khaldun hidup.  Namun pada akhir abad-16, jauh setelah wafatnya Ibnu Khaldun, terjadilah apa yang diprediksikan: dinasti ini bangkrut, dan pantai Tunisia berubah menjadi sarang bajak laut di Laut Tengah.  Sejak itulah muncul istilah “Negara Barbar” – untuk mencerminkan negara yang buas.

Sebenarnya “Berber” sebagai nama suku, dalam huruf Arab tentu saja ditulis “Barbar”.  Namun karena “Barbar” kemudian menjadi sinonim dari kejahatan, maka dewasa ini untuk nama suku lalu ditulis dan dilafalkan “Berber”.

Incoming search terms:

Tags: , ,

.

Leave a Reply