Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog
October 29th, 2012

Belajar Sains Islam Bukan Saintifikasi Islam

Banyak muslim yang sebenarnya bersemangat belajar apa saja kalau ada dorongan agama.  Termasuk belajar sains.  Tetapi kadang-kadang mereka membatasi sendiri rejekinya dengan belajar “SAINTIFIKASI ISLAM”, bukan Sains Islam.

Saintifikasi Islam adalah adalah upaya mencari dasar sains pada suatu pernyataan yang dianggap benar dalam Islam.  Pernyataan yang “taken for granted” sebagai kebenaran dalam Islam tentu saja adalah yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah, baik itu mengenai suatu hal yang harus dipercaya atau suatu amal yang harus dilakukan.

Hal-hal yang harus dipercaya masuk dalam kategori aqidah.  Bila sumbernya adalah Qur’an atau hadits mutawatir, kemudian dalalahnya tidak multitafsir, maka ia masuk dalam dalil qath’i, yang wajib dibenarkan secara pasti.  Misalnya adalah:

– pernyataan bahwa di sekitar kita bersliweran malaikat, jin dan setan; malaikat rahmat tidak akan masuk rumah yang ada anjingnya, sholat shubuh dan ashar disaksikan oleh dua malaikat, di tengah pasangan pria-wanita bukan mahram yang berdua-duaan terdapat setan, dsb.

– pernyataan bahwa sebelum Nabi Muhammad, Allah mengutus banyak Nabi di berbagai tempat, masa, dan dengan berbagai mukjizatnya, misalnya Nabi Adam sebagai manusia pertama, Nabi Nuh disuruh membuat perahu, Nabi Musa pernah membelah Laut Merah, Nabi Sulaeman pernah berbicara dengan binatang, Nabi Isa pernah menghidupkan orang mati, dsb.

– pernyataan bahwa sebelum Nabi Muhammad, Allah telah menurunkan berbagai kitab suci, yang di dalamnya berisi ajaran tauhid dan mengabarkan akan kedatangan Nabi Muhammad.

– pernyataan bahwa alam semesta ini dulu diciptakan dan nanti alam semesta akan mengalami kiamat berikut tanda-tandanya, lalu setelah itu manusia akan dibangkitkan dan akan ditempatkan di surga atau di neraka.

Pernyataan-pernyataan di atas adalah hal-hal yang ada di luar dunia empiris, sehingga nilai kebenarannya sangat tergantung pada sejauh mana penerimaan seseorang pada dalil qath’i yang menjadi sumbernya.

Sedang hal-hal yang harus dilakukan termasuk amal baik dalam hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, maupun dengan manusia lain. Misalnya adalah:

– sholat Shubuh 2 rokaat, sholat Maghrib 3 rokaat, yang lain 4 rokaat

– sholat tahajud dll sebagai amalan sunnah.

– puasa di bulan Romadhon, dan beberapa jenis puasa sunnah.

– makan-minum yang halal dan thayyib, dan beberapa jenis makanan/minuman yang diharamkan.

– penggunaan busana yang menutup aurat.

– bentuk pergaulan laki-perempuan (pernikahan) yang disahkan.

– syariat wudhu dan mandi janabat.

– tatacara pengurusan jenazah.

– pengaturan ekonomi yang bebas riba, maisir, gharar dsb.

Nah, SAINTIFIKASI ISLAM berkutat pada masalah-masalah “sains” di balik semua pernyataan yang diasumsikan benar dalam Islam ini.  Jadi penelitian-penelitian di bawah ini masuk kategori saintifikasi Islam:

– penelitian mendeteksi kehadiran malaikat dengan Infrared, radiasi Gamma atau Neutrino, “dikontrol” dengan beberapa amalan & kondisi khusus; apakah benar pada ruangan yang diselenggarakan sholat shubuh berjamaah dapat dideteksi tanda-tanda kehadiran lebih banyak malaikat?

– penelitian menguji kebenaran pernah terjadinya mukjizat para Nabi, misalnya:

— pencarian footprint Adam & Hawa ketika turun dari surga,

— pencarian relik kapal Nabi Nuh,

— menganalisis berbagai proses terjadinya pembelahan laut Merah,

— membuktikan bahwa Firaun memang mati tenggelam di laut tapi jasadnya terselamatkan,

— mencari bekas 12 mata air Nabi Musa,

— mencari fossil hewan yang pernah berbicara dengan Nabi Sulaeman

— mencari gua Ashabul Kahfi dan mempelajari efek terowong waktu,

— mencari fossil mayat yang konon pernah dihidupkan Nabi Isa,

— mencari bekas bulan yang terbelah di masa Nabi Muhammad, dsb.

– penelitian manuskrip-manuskrip kuno yang diklaim sebagai Kitab Nabi Musa, Daud, Isa dsb.

– penelitian keberadaan “terompet Israfil”, pintu neraka dsb.

– penelitian EKG & EEG pada orang yang sholat khusyu’.

– penelitian fisiografis & psikografis pada orang yang sedang puasa.

– penelitian dampak jangka panjang pada konsumsi makanan haram (babi, bangkai, darah).

– penelitian kesakitan yang diderita ternak saat disembelih dengan cara syar’i dan non syar’i.

– penelitian dampak sosiologi dan ekonomi pada penggunaan busana muslimah.

– penelitian dampak khitan pada kesehatan reproduksi dan perkembangan psikologis.

– penelitian komparasi pada mereka yang polygami dibandingkan dengan yang non polygami.

– penelitian dampak wudhu & mandi janabat pada berbagai aspek kesehatan

– penelitian dampak beberapa jenis pengurusan jenazah (dikubur, dibakar, dibalsem, …).

– penelitian kondisi ekonomi pada beberapa tingkat suku bunga.

– penelitian tentang efektifitas mata uang tunggal berbasis emas/perak.

Penelitian-penelitian saintifik tentang hal-hal di atas selalu menarik (amazing) bagi kaum muslimin, sehingga bahkan kadang-kadang lupa menguji kebenaran sainfitiknya ketika kesimpulannya sudah seolah-olah mendukung dalil.  Banyak paper yang diklaim sebagai hasil penelitian orang Barat (non muslim) yang mendukung klaim kebenaran dalil itu, ketika ditelusuri ternyata tidak ditemukan.  Semua link mengarah ke situs-situs milik muslim sendiri, dan itupun bukan sebuah karya yang dapat dikategorikan penelitian ilmiah (yang harus memenuhi syarat transparan, replicable, consistence  dan explaining).  Ketika rujukan itu tidak ditemukan, sering penjelasannya hanya, “ada konspirasi untuk menutupi kebenaran Islam”.

Sebaliknya ketika hasil penelitian berlawanan dengan yang dikehendaki, misalnya bahwa “tidak ada perbedaan yang signifikan antara orang yang terbiasa mengkonsumsi babi dengan yang tidak”, maka tulisan ini cenderung dijauhi.  Ini contoh suatu bentuk “kepengecutan ilmiah”.  Seharusnya biarkan saja, toh nanti setiap riset akan diverifikasi dan direlatifkan oleh riset berikutnya, selama proyek “saintifikasi Islam” ini tidak menyedot energi utama ilmuwan muslim.

Yang benar adalah, meski riset-riset saintifikasi Islam ini “amazing”, tetapi dia sama sekali “not worth” (mengasyikkan, tetapi tidak ada manfaatnya), karena tidak akan mempengaruhi apapun pada nilai kebenaran dari pernyataan dalil yang harus diyakini maupun diamalkan.

Yang harus dipahami juga adalah, bahwa ada beberapa pernyataan di dalam Qur’an & Sunnah yang tidak masuk dalam dalil qath’i, karena dalalahnya multitafsir, sedang objeknya adalah dunia empiris, sehingga pantas bila diteliti secara saintifik.  Inilah yang masuk kategori SAINS ISLAM.  Misalnya persoalan:- apakah bumi yang mengitari matahari atau matahari yang mengitari bumi ?

– seberapa besar sebenarnya “langit dunia” itu ?

– seperti apa sesungguhnya mekanisme “air laut yang tidak tercampur” itu ?

– sejauh mana Habatussaudah bisa benar-benar “mengobati segala penyakit kecuali maut” ?

– bagaimana saja khasiat dalam jahe, sehingga disebut campuran minuman ahli surga ?

dsb.

Wallahu a’lam bis shawab

Incoming search terms:

Tags: ,

.

One Response to “Belajar Sains Islam Bukan Saintifikasi Islam”

  1. Nahzim Rahmat Says:
    January 1st, 2014 at 5:09 pm

    Kalo pembahasan UFO itu termasuk yang mana Pak???
    Mohon infonya…

Leave a Reply