Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog
April 4th, 2013

Pedang Berteknologi Masa Depan!

Dr Fahmi Amhar

Syariat jihad pada zaman khilafah Islam telah mendorong tidak cuma semangat yang berkobar untuk berjuang dengan mengorbankan harta dan jiwa, tetapi juga menarik sains dan teknologi ke level yang jauh lebih maju.  Salah satu yang mengesankan – dan hingga kini masih misteri – adalah adanya teknik logam (metalurgi) yang amat tinggi, dibuktikan dengan pernah dibuatnya Pedang Damaskus pada kisaran tahun 1100 sampai dengan tahun 1750.  Pedang ini terkenal dengan ketajamannya dan memiliki bahan yang kuat dan lentur.

Pedang Damaskus itu sendiri dikenal sebagai pedang yang digunakan oleh Salahuddin al Ayyubi, seorang sultan Mesir-Syria sekaligus panglima perang yang dapat merebut kembali Jerussalem dari tangan bangsa Nasrani melalui perang Hattin. Salahuddin terkenal di dunia Islam maupun Kristen karena kepemimpinan, kecakapan militer, dan sifat ksatria dan pengampunnya pada saat melawan tentara Salib. Dan dia adalah juga seorang ulama.

Tahun 1192. Richard Berhati Singa (Lion Heart), raja Inggris dalam Perang Salib III, bertemu Salahuddin. Sir Walter Scott mendramatisasi kisahnya dalam novel “The Talisman”, bagaimana keduanya memamerkan senjata masing-masing.

Richard mengeluarkan  pedang lebar mengilap buatan pandai besi terbaik Inggris. Salahuddin  menghunus pedang lengkung buatan pandai besi Damaskus yang  tidak mengilap. Richard memapas sebuah kotak dari besi hingga putus dan Salahuddin Al Ayubi melepaskan kain sutra halus hingga terbang dan sutra tersebut putus ketika tersentuh tajamnya pedang.

Teknik pembuatan pedang Damaskus ini begitu rahasia sehingga hanya beberapa keluarga pandai besi di Damaskus saja yang menguasainya. Ini juga yang menyebabkan teknik pembuatan baja Damaskus akhirnya punah. Hingga kini teknologi metalurgi yg paling canggih pun belum mampu membuat pedang yang lebih tajam dari pedang Damaskus.

Sebuah penelitian mikroskopik pada pedang-pedang Damaskus di museum, menemukan bahwa pedang-pedang ini ternyata memiliki semacam lapisan kaca di permukaannya. Bisa dikatakan para ilmuwan Muslim di Timur Tengah telah menguasai teknologi nano sejak seribu tahun yang lalu.

John Verhouven di Universitas Iowa telah menemukan bahwa hanya tipe tertentu dari wadah khusus untuk melebur baja ditambah elemen lain seperti vanadium akan menghasilkan pola nano yang tepat. Pada 2006, para peneliti di Universitas Teknologi Dresden, Jerman, mempelajari pedang prajurit Islam dengan mikroskop elektron dan menemukan bahwa kekuatan pedang mereka mungkin berasal dari nanotube karbon dan kawat nano yang dibuat dari mineral yang disebut sementit. Struktur serupa akan menghasilkan bahan komposit modern yang kuat. Namun, resep tepat untuk membuat pedang prajurit Islam itu masih menjadi misteri.

pedang-fahmiamhardotcomDengan teknologi terkini, diketahui bahwa efek pola air yang dimiliki oleh pedang Damaskus diperoleh dengan menempa baja yang mengandung proporsi jumlah karbon yang besar. Daerah gelap pada permukaan pedang akibat pola yang dibuat residu karbon, sedangkan pola terang dibentuk oleh partikel ikatan karbit besi. Kandungan karbon yang tinggi memungkinkan diperolehnya pedang dengan ketahanan tinggi, namun kehadiran karbon di campuran bahan mentah sangat sulit atau hampir tidak mungkin dikontrol. Terlalu sedikit karbon menyebabkan pedang menjadi lemah, namun terlalu banyak karbon menyebabkannya menjadi getas. Bila proses pembuatan pedang tidak berlangsung dengan baik, baja akan membentuk besi sementit, fase besi yang sangat rentan. Namun, para ahli metalurgi Islam mampu mengontrol kerentanan inheren dan menempa bahan mentah tersebut menjadi senjata. Suatu artikel jurnal di Nature menceritakan mengapa baja karbon dapat dibuat dan mengapa saat ini menghilang. Ide tersebut didasari oleh ilmu pengetahuan material modern: Nanoteknologi, hal yang sulit terpikirkan hingga abad ke-17.

Pembuatan baja telah dipelajari dengan seksama dan didokumentasikan serta diturunkan bagi para ahli pedang di dunia Islam, yang menjaga dengan baik rahasia ini. Baja Damaskus sangat berharga karena menggabungkan antara kekuatan, elastisitas dan ketahanannya. Saat ini, walaupun teknologi metalurgi telah berkembang pesat, namun para peneliti masih saja kesulitan untuk meniru dan membuat baja yang mirip dengan baja Damaskus.

Mungkin untuk mendapatkan kembali teknologi yang hilang itu, kita harus merekonstruksi dahulu negara yang memungkinkannya, yaitu Khilafah Islamiyah, sehingga para ilmuwan akan kembali inovatif, mengembangkan teknologi untuk tujuan yang mulia dan barokah, jihad fisabilillah, untuk menyebarkan rahmat ke seluruh alam.

Referensi:
http://creative.sulekha.com/karnataki-karbon-nanotube-swords-forget-s-indian-wootz_188921_blog

Incoming search terms:

Tags: , , ,

.

Leave a Reply