Beyond the Scientific Way

Fahmi Amhar Official Blog
July 18th, 2013

BULAN PERUBAHAN – Ramadhan Hari-9: UBAH PERSEPSI

Sesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu persepsinya tentang berbagai hal.

Persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu serapan.  Persepsi ini dihasilkan dari informasi yang masuk ke pancaindera seseorang, kemudian oleh otaknya dihubungkan dengan berbagai informasi yang telah ada sebelumnya, baik informasi yang masih mengambang, maupun yang sudah mantap atau dianggap referensi.

Namun kualitas persepsi juga tergantung kecepatan orang berpikir dan berapa banyak otaknya dilatih.  Otak manusia memiliki keunikan, yakni makin sering dipakai, makin cepat dia berpikir dan makin banyak yang bisa disimpannya.  Tetapi kualitas latihan ini juga tergantung jenis informasi yang dimasukkan.  Ada informasi-informasi yang memperkuat otak, tetapi ada juga yang justru melemahkannya.  Membaca Qur’an, memecahkan persoalan matematika atau menganalisis berita politik, adalah termasuk informasi yang memperkuat otak. Sedang pornografi, opera sabun atau gossip murahan, adalah informasi yang melemahkan.  Otak melemah karena banyak sel-sel di otak yang terlena atau non aktif, kecepatan berpikir jadi berkurang, dan akibatnya persepsi yang dihasilkannyapun tidak optimal.
Di dunia bisnis, banyak analis ekonomi atau perencana keuangan yang berlatar belakang sains/teknik, karena konon otak mereka lebih terlatih memecahkan persoalan yang lebih rumit, sehingga terasa ringan dan lebih cepat ketika menghadapi persoalan bisnis atau finansial.  Itulah kenapa, para ilmuwan zaman dulu selalu melalui masa kanak-kanak sebagai penghafal Qur’an, atau ulama fiqih juga belajar matematika.  Di sisi lain, setiap orang yang sedang menghafal Qur’an wajib menghindari maksiat.  Bahkan menonton dangdut dengan biduanita yang mengumbar aurat bisa menghilangkan 1-2 juz dari memory.

 fahmi-amhar-ubah-persepsi

Adapun persepsi itu sendiri bisa bermacam-macam.  Ada persepsi tentang diri sendiri.  Ada persepsi tentang orang lain.  Juga persepsi tentang alam semesta, masyarakat, negara, dan sebagainya.  Semuanya akan menentukan apa yang akan dilakukan orang itu kemudian.

Orang yang mempersepsikan dirinya hanya sebagai korban yang malang dari sistem yang rusak, relatif akan lebih sering mengeluh dan menyalahkan pihak lain, tentunya paling banyak menyalahkan pemerintah, tetapi bisa juga menyalahkan konspirasi asing, bahkan dajjal.  Sebaliknya orang yang mempersepsikan dirinya sebagai sosok pilihan, penyelamat korban dari sistem rusak, tentunya akan sibuk mencari solusi yang bisa dilakukan, agar korban selanjutnya tidak perlu berjatuhan lagi.  Mereka berprinsip “tidak perlu mengutuk kegelapan, tetapi nyalakan lilin atau bangun pembangkit listrik yang akan menerangi semuanya”.

Orang yang memiliki persepsi bahwa dunia ini penuh dengan konspirasi, akan relatif menjadi pencuriga.  Semua hal yang dihadapi dinilai dari kaca mata hitam konspirasi.  Bahkan andaikata anaknya yang malas belajar dapat rapor merah, atau rumahnya yang tidak memiliki penangkal petir kena musibah (yakni kesambar petir), respon pertamanya adalah “ada konspirasi yang tertuju pada keluarga atau rumahnya”.

Kadang-kadang batas antara curiga akibat memiliki persepsi konspiratif, dengan waspada karena memiliki persepsi yang ideologis, itu tipis.  Dari sisi “kecepatan berpikir” keduanya hampir sama.  Yang membedakannya adalah “kualitas berpikir”.  Persepsi ideologis itu akurat, sistemik, konstruktif dan siap divalidasi dengan pisau analisis apapun, sedang persepsi konspiratif itu cenderung sebaliknya.

Tentu saja, persepsi ideologis inipun masih tergantung ideologi apa yang mendasarinya.  Ideologi sosialis, kapitalis, ataukah ideologi islam?  Peristiwa politik atau ekonomi yang sama akan dipersepsikan dengan amat berbeda.  Di sinilah kembali diperlukan sesuatu yang lebih mendasar lagi: aksioma, asumsi dasar yang dianggap benar, atau dalam istilah Arab disebut: AQIDAH.

Aqidah ini akan meletakkan cara pandang terhadap dunia.  Apakah dunia ada dengan sendirinya melalui proses evolusi ?  Ataukah dunia itu diciptakan oleh sosok Tuhan kemudian Tuhan meletakkan manusia di dalamnya untuk mengatur dirinya sendiri ?  Ataukah dunia ini diciptakan Tuhan dan sudah dilengkapi dengan satu set manual untuk menguji manusia siapa yang lebih baik amalnya ?

Maka ternyata, bagaimana kita akan merubah nasib kita di masa depan, sangat tergantung dari aqidah apa yang kita pilih untuk mendasari persepsi yang kita gunakan dalam memahami dunia.  Orang yang menolak keberadaan Tuhan, sama sekali tidak akan menyertakan Tuhan dalam analisnya, sekalipun hanya untuk mengambil hikmah. Orang yang menerima keberadaan Tuhan tetapi menolak campur tangan Tuhan dalam kehidupan, tidak akan menengok ajaran Tuhan untuk ikut memberikan solusi atas kejadian apapun.  Sementara itu, seorang muslim, akan melihat setiap kejadian, yang menyenangkan ataupun menyusahkan, sebagai ujian dari Allah untuk menguji siapa yang paling baik amalnya.  Kalau ada bencana, dan dia adalah salah satu korbannya, maka itu untuk menguji kesabarannya dan introspeksi pada amalnya selama ini; sedang kalau dia bukan salah satu korbannya, maka itu untuk menguji sejauh mana dia berkontribusi meringankan beban korban bencana, baik secara sporadis maupun sistematis, baik yang sifatnya teknis maupun non teknis.

Contoh: Kalau banjir itu cuma insidental, maka itu persoalan teknis belaka. Tetapi kalau banjir itu selalu terjadi, berulang, dan makin lama makin parah, maka itu pasti persoalan sistemik.  Kalau banjir sistemik itu dapat selesai dengan bendungan baru, pompa baru, kanal baru dll, maka itu sistemik-teknis.  Namun, kalau itu menyangkut tata ruang yang tidak dipatuhi, kemiskinan yang mendorong orang menempati sempadan sungai, keserakahan yang membuat daerah hulu digunduli, sistem anggaran yang tidak adaptable untuk atasi bencana, pejabat yang tidak kompeten dan abai mengawasi semua infrastruktur, dsb, maka itu sudah terkait dengan sistem-non teknis. Dan sistem non teknis ini kalau saling terkait dan berhulu pada pemikiran mendasar bahwa semua ini agar diserahkan kepada mekanisme pasar dan proses demokratis yang cuma bervisi 5 tahun, maka persoalannya sudah ideologis

Kalau persepsi kita melihat bahwa akar masalahnya hanya sebatas teknis, maka cukuplah upaya-upaya teknis. Tetapi jika akar masalahnya sudah sampai ideologis, maka jalan keluarnyapun harus ideologis, yakni dengan mengganti ideologi kapitalisme-sekuler dengan ideologi Islam.

Mestinya Ramadhan adalah bulan untuk merubah persepsi kita. Mudah-mudahan, pada hari ke-9 bulan Ramadhan, kita sudah bisa merubah persepsi kita memandang kehidupan, agar Allah merubah nasib kita.

Incoming search terms:

Tags: , , ,

.

Leave a Reply